AI Sebagai Kekuatan Ekonomi dan Geopolitik, Wamenko Serukan Indonesia untuk Beradaptasi

Jakarta – Dalam era yang semakin didominasi oleh teknologi, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menekankan pentingnya Indonesia untuk mengambil peran signifikan dalam pengembangan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, kemampuan untuk beradaptasi dalam penggunaan teknologi ini akan menentukan posisi Indonesia dalam peta ekonomi dan geopolitik global di masa depan.
AI sebagai Sumber Kekuatan Global
Dradjad menegaskan bahwa AI tidak hanya sekadar alat, tetapi juga merupakan sumber dari kekuatan teknologi, geopolitik, dan ekonomi yang vital bagi masa depan. “Kita tidak bisa hanya menjadi pengikut; kita harus berupaya menjadi negara yang memimpin dalam inovasi tersebut,” ujarnya dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta pada tanggal 8 Oktober.
Pentingnya Transformasi AI
Transformasi melalui AI adalah sebuah keharusan yang tidak bisa dihindari. Dradjad mengingatkan agar Indonesia tidak mengulang kesalahan di masa lalu, di mana penolakan terhadap inovasi sering kali disebabkan oleh ketakutan akan pengurangan tenaga kerja. Sikap ini telah mengakibatkan Indonesia kehilangan peluang strategis, sementara negara-negara tetangga, seperti Malaysia, berhasil memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkembang menjadi pusat teknologi yang lebih maju.
Risiko dan Kesempatan di Era Teknologi
Wakil Menteri mengakui bahwa setiap kemajuan teknologi membawa risiko kegagalan, namun risiko ini harus dikelola dengan hati-hati melalui penerapan manajemen risiko yang efektif. Keberanian untuk menghadapi dan mengelola risiko ini, menurutnya, adalah syarat utama untuk mencapai kesuksesan dan menempatkan Indonesia di garis depan penguasaan teknologi.
Daya Ungkit AI untuk Ekonomi
Menurut Dradjad, AI memiliki potensi yang sangat besar untuk memperkuat kapabilitas ekonomi, teknologi, dan pertahanan nasional di masa depan, meskipun beberapa sektor pekerjaan konvensional mungkin mengalami pergeseran. “Kita perlu bijaksana dalam menentukan langkah, mengelola dampak negatif serta mempersiapkan sumber daya yang diperlukan, seperti dalam hal penyediaan air untuk pusat data,” tambahnya.
Mendorong Inovasi dan Investasi
Dradjad juga menyampaikan pesan penting bahwa Indonesia perlu merangkul teknologi baru. “Kita tidak hanya perlu berpartisipasi, tetapi juga seharusnya berada di garis depan. Kita memiliki potensi besar untuk itu,” ujarnya. Dia menyatakan bahwa beberapa investor telah mengungkapkan minat terhadap potensi Indonesia, yang tidak hanya memiliki keunggulan komparatif, tetapi juga keunggulan kompetitif dalam sektor ini.
Transformasi Digital untuk Pertumbuhan Ekonomi
Dalam kesempatan tersebut, Dradjad menekankan pentingnya memperkuat transformasi digital melalui pembangunan pusat data, pengembangan AI, industri semikonduktor, dan peningkatan kapasitas talenta digital. Semua ini merupakan langkah esensial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju target 8 persen.
- Pembangunan pusat data yang efisien dan berkelanjutan
- Pengembangan teknologi AI untuk berbagai sektor
- Industri semikonduktor sebagai bagian dari ekosistem teknologi
- Peningkatan talenta digital untuk mendukung inovasi
- Strategi untuk memanfaatkan potensi pertumbuhan ekonomi
Dradjad menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi di masa lalu banyak didorong oleh sektor pertanian, lalu beralih ke industri, dan kini berfokus pada jasa. Namun, dia menekankan bahwa ke depan, faktor-faktor seperti Internet of Things, pusat data, AI, dan semikonduktor akan menjadi pendorong utama pertumbuhan. “Kita harus bersiap agar tidak tertinggal dalam perkembangan ini,” pungkasnya.
➡️ Baca Juga: Ayam Panggang Pakis Lereng Muria: Kuliner Favorit Selama Lebaran yang Wajib Dicoba
➡️ Baca Juga: Enam Pemuda Diamankan Polisi di Duren Sawit Saat Bawa Air Keras untuk Tawuran




