Bos Agrinas: Pengembangan 1 Juta Ha Bioetanol Dapat Serap 1,1 Juta Pekerja dan Hemat Devisa Rp93,6 T

Jakarta – Pengembangan bioetanol yang terintegrasi kini telah menjadi topik hangat yang tidak hanya membahas soal pemanfaatan energi, tetapi juga berimplikasi luas terhadap penciptaan lapangan kerja dan penghematan devisa negara. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Mohammad Abdul Ghani, dalam penjelasannya mengenai manfaat yang dapat diperoleh dari pengembangan bioetanol.

Peluang Besar dari Pengembangan Bioetanol

Menurut Ghani, target yang ditetapkan untuk pengembangan lahan bioetanol seluas 1 juta hektare menunjukkan potensi yang sangat signifikan. Dengan lahan tersebut, diperkirakan produksi bioetanol dapat mencapai 5 juta kiloliter setiap tahunnya.

“Dampak paling nyata dari pengembangan ini adalah pada aspek ketenagakerjaan. Dari 1 juta hektare yang direncanakan, kami dapat menciptakan hingga 1,1 juta lapangan kerja,” ungkap Ghani di Jakarta pada hari Kamis, 8 Oktober.

Rincian Tenaga Kerja yang Diciptakan

Dalam rincian tersebut, sekitar 500 ribu pekerja akan terlibat langsung di lahan pertanian dan pabrik pengolahan, sementara 600 ribu lainnya akan mendapatkan manfaat dari pekerjaan tidak langsung dan efek ikutan (indirect & induced) yang muncul akibat berkembangnya layanan pendukung serta aktivitas ekonomi di area pengembangan.

Ghani menekankan bahwa Agrinas sejak awal berkomitmen untuk menyerap tenaga kerja lokal dan memperkuat kapasitas masyarakat. Selain menyediakan peluang kerja di kebun, masyarakat juga diberikan kesempatan untuk bermitra dalam bentuk koperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pengembangan kebun milik komunitas. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi lokal menjadi lebih inklusif.

Dampak Ekonomi yang Signifikan

Menurut Ghani, perputaran upah dari proyek ini diperkirakan mencapai Rp27 triliun di daerah-daerah pengembangan. Angka ini belum termasuk efek multiplier dari sektor logistik, perdagangan, pengadaan lokal, hingga hilirisasi produk.

Mengenai investasi, proyek pengembangan seluas 1 juta hektare ini diperkirakan memerlukan dana sekitar Rp142 triliun, mencakup biaya on-farm dan off-farm. Investasi yang besar ini diharapkan dapat merangsang perekonomian di wilayah tersebut.

Penghematan Devisa dan Ketahanan Energi

Di sisi lain, pengembangan bioetanol juga berkontribusi signifikan dalam penghematan devisa. Saat ini, kebutuhan bahan bakar bensin nasional mencapai 37,6 juta kiloliter per tahun, dengan 60 persen dari jumlah tersebut masih bergantung pada impor. Dengan adanya mandatori E20, Indonesia memerlukan sekitar 7,5 juta kiloliter bioetanol. Apabila 1 juta hektare lahan yang dikembangkan oleh Agrinas mampu memproduksi 5 juta kiloliter bioetanol per tahun, maka potensi penghematan devisa dapat mencapai Rp93,6 triliun.

“Dengan begitu, kita dapat mengurangi ketergantungan pada impor BBM di tengah situasi global yang tidak menentu, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional,” tambah Ghani.

Strategi Terintegrasi dari Hulu ke Hilir

Ghani menjelaskan bahwa pengembangan ini dilakukan dengan pendekatan terintegrasi dari hulu ke hilir untuk memastikan keberlangsungan bisnis. Beberapa strategi yang diterapkan antara lain penggunaan multifeedstock untuk diversifikasi pasokan, pemanfaatan varietas unggul, mekanisasi, teknik pertanian presisi, serta penerapan standar Good Agricultural Practices (GAP).

Agrinas juga menginisiasi pola kemitraan triple helix yang melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), petani atau koperasi, serta sektor swasta. Ini bertujuan untuk memperkuat aspek pembiayaan, teknologi, dan produksi dalam ekosistem bioetanol.

Dampak Lingkungan yang Positif

Selain dampak ekonomi, pengembangan bioetanol juga memperhatikan aspek lingkungan. Bioetanol diketahui memiliki intensitas karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil, sehingga berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca dan mendukung pencapaian target Net Zero Emission pada tahun 2060.

“Kita tetap berpegang pada prinsip pertanian berkelanjutan. Oleh karena itu, kami menghindari pembukaan lahan di kawasan yang harus dilindungi, mengurangi risiko degradasi lahan, serta mendorong ekonomi sirkular dengan memanfaatkan residu sebagai sumber energi, pakan, pupuk, atau bahan baku industri,” jelas Ghani.

Harapan untuk Masa Depan Bioetanol di Indonesia

Dengan terbentuknya ekosistem industri bioetanol di Indonesia, Ghani berharap bahwa selain penghematan devisa dan terbukanya lapangan kerja, nilai tambah dari komoditas pertanian juga akan meningkat. Hal ini diharapkan dapat menjamin pasokan energi yang lebih stabil di dalam negeri.

Melalui pengembangan bioetanol yang berkelanjutan, diharapkan akan tercipta kondisi yang saling menguntungkan bagi masyarakat, lingkungan, dan perekonomian nasional. Inisiatif ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga menjanjikan keberlanjutan bagi generasi mendatang.

➡️ Baca Juga: Formula E Bekerja Sama dengan Disney+ dan ESPN untuk Siarkan Balapan di 144 Negara

➡️ Baca Juga: Video Wisuda Mahasiswi Undip Mendapatkan Salam Langsung dari Bon Jovi

Exit mobile version