happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

slot depo 10k slot depo 10k
Pendidikan

FESyar Jawa 2026: Mendorong UMKM dan Pesantren Menuju Kelas yang Lebih Tinggi

Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa 2026 menjanjikan lebih dari sekadar pameran produk halal. Acara ini menjadi platform strategis yang menghubungkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pesantren dengan berbagai sumber daya pasar dan pembiayaan. Bank Indonesia (BI) menekankan pentingnya FESyar sebagai inisiatif yang berkelanjutan, bukan hanya sekadar kegiatan seremonial. Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa FESyar harus menciptakan dampak nyata yang dapat diimplementasikan setelah acara selesai.

Dampak dan Tujuan FESyar Jawa 2026

Destry menjelaskan bahwa pengembangan ekonomi syariah harus fokus pada penguatan pelaku usaha serta meningkatkan akses mereka terhadap pembiayaan dan pasar. Banyak pelaku UMKM yang memiliki potensi produk yang baik, tetapi terhambat oleh kurangnya pemahaman mengenai pencatatan dan pelaporan keuangan. Hal ini mengakibatkan kesulitan dalam mendapatkan penilaian positif dari lembaga keuangan.

“FESyar tidak boleh hanya menjadi momen seremonial. Kita perlu menghasilkan dampak yang bisa ditindaklanjuti,” ujar Destry dalam sambutannya di Surabaya. Pelaku UMKM perlu mendapatkan pendampingan yang lebih komprehensif, tidak hanya dalam meningkatkan kualitas produk, tetapi juga dalam manajemen keuangan agar lebih siap dalam mengakses pembiayaan.

Pentingnya Literasi Keuangan

Menurut Destry, banyak UMKM yang berpotensi, namun kurang “bankable” karena tidak memiliki financial statement yang memadai. Oleh karena itu, peningkatan literasi keuangan menjadi salah satu fokus utama dalam pendampingan yang diberikan oleh BI. Dengan mengedukasi pelaku UMKM tentang pengelolaan usaha dan laporan keuangan, mereka akan lebih siap untuk mendapatkan akses pembiayaan yang diperlukan.

Inklusi Ekonomi Syariah untuk Semua

Destry juga menyoroti bahwa ekonomi syariah tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Muslim. Prinsip-prinsip seperti inklusivitas, keberlanjutan, dan keadilan dalam ekonomi syariah dapat diterapkan untuk semua kalangan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan industri halal yang memiliki pasar global yang luas. Indonesia saat ini menempati peringkat keempat dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026, dengan keunggulan di sektor modest fashion, pariwisata halal, dan makanan halal.

Namun, potensi ini harus diimbangi dengan penguatan ekosistem yang mencakup variasi produk pembiayaan syariah serta akses ke layanan keuangan. Destry menekankan bahwa masih ada kesenjangan dalam literasi dan inklusi keuangan syariah, sehingga pengembangan produk dan akses menjadi tantangan yang harus diatasi.

FESyar sebagai Ruang Kolaborasi

FESyar diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan pelaku UMKM, pesantren, lembaga keuangan, dan konsumen. Dengan mengadakan berbagai sesi pelatihan dan workshop, FESyar dapat memberikan wawasan kepada para pelaku usaha mengenai cara memperluas jaringan dan meningkatkan kapasitas mereka dalam berbisnis.

Membangun Ekosistem Ekonomi Syariah

Kepala Perwakilan BI Jawa Timur, Ibrahim, menyatakan bahwa pengembangan ekonomi syariah kini tidak lagi dapat dipandang sebelah mata. Ekonomi syariah harus dibangun sebagai ekosistem yang dapat mempengaruhi sektor riil, memperluas akses pembiayaan, dan meningkatkan kapasitas UMKM serta pesantren.

“Ekonomi syariah bukan sekadar potensi, melainkan telah menjadi ekosistem yang merupakan sumber pertumbuhan ekonomi,” tegas Ibrahim. Jawa memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem ini, berkat basis ekonomi yang kuat dan jaringan pesantren yang luas.

Peran Pesantren dalam Ekonomi Syariah

Di Jawa Timur, lebih dari 97 persen penduduknya beragama Islam, dengan lebih dari 7.000 pesantren yang memiliki 600 ribu santri. BI menerjemahkan potensi ini melalui berbagai program pendampingan, seperti peningkatan kapasitas usaha pesantren, sertifikasi halal, dan akses ke pasar serta pembiayaan.

BI juga berkomitmen untuk mengembangkan pesantren agar tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan sosial, tetapi juga sebagai pusat kegiatan ekonomi yang produktif.

Program Inovatif dalam FESyar

FESyar Jawa 2026 mengusung berbagai program inovatif, termasuk penguatan pasar halal, pengembangan Zona Kuliner Halal, dan pemanfaatan wakaf produktif untuk pendidikan. Program-program ini bertujuan untuk menciptakan jaringan yang lebih luas antara pelaku usaha, sertifikasi, produksi, dan akses pembiayaan.

Contoh Nyata dari Pelaku UMKM

Salah satu contoh sukses adalah Lestari Kusumawati, pemilik Rezti’s Batik Jember. Lestari memulai usaha batik sejak 2012 dan mengalami pertumbuhan pesat setelah mendapatkan pendampingan dari BI. “Banyak ilmu yang kita dapat setelah dibina BI. Kami juga bisa berkolaborasi dengan UMKM lain,” jelas Lestari.

  • Usaha batik kini memproduksi berbagai produk, termasuk pakaian dan selendang.
  • Telah mendapatkan sertifikasi halal dan Batikmark untuk produk batik tulis.
  • Omzet meningkat sekitar 40% setelah pendampingan.
  • Melibatkan masyarakat dalam proses produksi, termasuk penyandang disabilitas.
  • Mendirikan program edukasi batik sebagai tujuan wisata edukasi.

Pendampingan BI tidak hanya meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk Lestari, tetapi juga memperkuat branding usahanya.

Inisiatif Ekonomi Pesantren

Di sisi lain, Hamalatul Qur’an Manonjaya di Tasikmalaya mengembangkan budidaya melon sebagai unit usaha. Aazimuddin dari unit pengembangan ekonomi pesantren menjelaskan bahwa mereka mendapatkan dukungan dari BI berupa fasilitas greenhouse dan pelatihan budidaya melon. “Kami belajar selama dua minggu tentang cara membudidayakan melon,” tambah Aazimuddin.

Greenhouse yang dibangun memiliki luas 500 meter persegi dan dapat menampung sekitar 1.000 tanaman melon. Hasil panen dijual ke berbagai saluran, termasuk supermarket dan reseller. Dari satu kali panen, unit usaha pesantren bisa menghasilkan keuntungan bersih antara Rp25 juta hingga Rp50 juta, yang digunakan untuk mendukung operasional pesantren.

Manfaat FESyar bagi Pesantren

Bagi Aazimuddin, keikutsertaan dalam FESyar bukan hanya untuk menjual produk, tetapi juga untuk memperkenalkan model ekonomi pesantren dan menjalin relasi baru. “Kami mendapatkan banyak manfaat, termasuk promosi dan peluang untuk berbagi informasi mengenai pengembangan ekonomi pesantren,” ungkapnya.

Struktur Pengembangan Ekonomi Syariah

Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal, menyatakan bahwa FESyar merupakan bagian dari struktur pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang berjenjang. Kegiatan ini diadakan tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat regional dan lokal.

Sejak 2019, BI telah menggelar FESyar dengan pembagian wilayah yang mencakup Sumatera, Jawa, dan Kawasan Timur Indonesia. Selain itu, ada rangkaian Road to FESyar di tingkat provinsi untuk mempersiapkan acara ini. “FESyar menjadi momen penting untuk mengevaluasi pencapaian dan menetapkan target pengembangan untuk tahun berikutnya,” jelas Rifki.

Pentingnya Kemandirian Ekonomi Pesantren

Pengembangan ekonomi pesantren menjadi fokus penting karena pesantren berperan sebagai bagian dari rantai nilai halal. BI berkomitmen untuk mendorong unit usaha di pesantren agar bisa mandiri dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Organisasi Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren) juga didirikan untuk mendukung pesantren dalam meningkatkan kualitas produk dan akses pasar.

“Hebitren membantu pesantren dalam hal kualitas, standar produk, dan membuka akses pasar ekspor,” imbuh Rifki. Dengan program ini, produk-produk pesantren yang ditampilkan di FESyar Jawa 2026 merupakan bagian dari ekosistem pembinaan yang telah dibangun selama ini.

Menuju Ekonomi Syariah yang Berkelanjutan

FESyar Jawa 2026, yang berlangsung pada 25-27 September 2026 di Surabaya, mengambil tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”. Ini merupakan bagian dari rangkaian menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

FESyar diharapkan bisa menjadi momentum untuk memantapkan langkah dalam membangun ekosistem ekonomi syariah yang terintegrasi, sehingga UMKM dan pesantren tidak hanya memiliki potensi, tetapi juga kemampuan untuk berkontribusi secara aktif dalam perekonomian nasional.

➡️ Baca Juga: Video Wisuda Mahasiswi Undip Viral Setelah Dikenal Berkat Komentar Bon Jovi

➡️ Baca Juga: Bisnis Online Tanpa Toko Fisik: Peluang Menjanjikan untuk Usaha Rumahan Anda

Related Articles

Back to top button