JIF Summit 2026 Tingkatkan Proyek Tanggul Laut NCICD Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Jakarta

Jakarta – Masa depan kawasan pesisir Jakarta menjadi topik sentral dalam Jakarta Investment Festival (JIF) Summit 2026, melalui diskusi panel sampingan berjudul “The Road Ahead for Jakarta’s Coastal Transformation”. Acara yang berlangsung di Grand Ballroom Shangri-La Jakarta pada Kamis, 27 Agustus 2026, ini bertujuan untuk membahas strategi pengembangan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) sebagai upaya jangka panjang dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi oleh kawasan pesisir.

Strategi Pengembangan NCICD untuk Perlindungan dan Pertumbuhan

Pengembangan NCICD dirancang tidak hanya untuk memperkuat perlindungan Jakarta dari ancaman banjir dan kenaikan permukaan air laut, tetapi juga diharapkan dapat mendorong pembangunan kawasan, meningkatkan konektivitas, serta menciptakan peluang investasi di wilayah pantai utara Jakarta.

Transformasi kawasan pesisir Jakarta memerlukan pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan berbagai aspek, termasuk perlindungan lingkungan, tata ruang, infrastruktur, dan pembiayaan, serta pemberdayaan masyarakat. Hal ini menjadi fokus diskusi yang melibatkan berbagai perwakilan dari pemerintah, lembaga pembiayaan, konsultan, dan sektor swasta pada JIF Summit 2026.

Tantangan Perubahan Iklim dan Pertumbuhan Perkotaan

Wakil Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta, Indra Patrianto, mengungkapkan bahwa Jakarta kini dihadapkan pada tantangan pesisir yang semakin rumit akibat perubahan iklim dan pertumbuhan urban yang pesat. Dengan sekitar 40 persen wilayahnya berada di bawah permukaan laut, Jakarta menghadapi risiko banjir, penurunan muka tanah, serta kenaikan permukaan laut yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga Rp2,1 triliun setiap tahunnya.

Indra menekankan pentingnya penguatan ketahanan kota sebagai langkah strategis untuk mendukung target Jakarta menjadi salah satu dari 20 kota global terbaik pada tahun 2045.

Peran Kolaborasi dalam Mengatasi Perubahan Iklim

“Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada peningkatan ketahanan kota dan mitigasi risiko banjir, tetapi juga diharapkan dapat menjadi pendorong bagi pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas lingkungan, serta pembangunan kota yang berkelanjutan,” ungkap Indra.

Dia menambahkan, tantangan terkait perubahan iklim dan ketahanan pesisir tidak bisa ditangani oleh pemerintah sendirian. Oleh karena itu, JIF Summit 2026 dijadikan platform untuk mempertemukan pemerintah, investor, serta berbagai ahli dan pelaku usaha guna mencari bentuk kolaborasi efektif yang dapat memperkuat pembangunan kawasan pesisir Jakarta.

“Upaya untuk menghadapi perubahan iklim harus dilakukan secara kolektif, bukan hanya mengandalkan pemerintah,” tegas Indra.

Pesisir Sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi

Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Afan Adriansyah Idris, berpendapat bahwa kawasan pesisir seharusnya tidak hanya dilihat sebagai wilayah yang memerlukan perlindungan. Infrastruktur perlindungan juga bisa menjadi fondasi untuk mengembangkan konektivitas, kawasan ekonomi, serta berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi masyarakat pesisir.

Menurut Afan, pengembangan kawasan pesisir harus mampu menghubungkan agenda pengendalian banjir dengan pembangunan wilayah, konektivitas, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Transformasi Menuju Kota Pesisir yang Terpadu

Afan mengungkapkan bahwa strategi pemerintah bergerak secara bertahap dari pola pertahanan banjir yang bersifat reaktif menuju sistem perlindungan pesisir melalui NCICD. Proses ini diarahkan untuk membangun kota pesisir yang lebih terpadu dan adaptif terhadap perubahan lingkungan.

Kerangka Perlindungan Pantai Utara Jawa

Deputi Pengelolaan Wilayah Banten, Jakarta, dan Jawa Barat Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa, Sawarendro, menekankan pentingnya menempatkan pengembangan NCICD dalam konteks perlindungan Pantai Utara Jawa yang lebih luas. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, kebutuhan perlindungan kawasan pesisir membentang lebih dari 500 kilometer, mulai dari Serang hingga Gresik, dengan karakteristik lingkungan yang bervariasi di setiap daerah.

Melihat perbedaan kondisi di setiap kawasan, bentuk perlindungan yang diterapkan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masing-masing wilayah. Pendekatan yang dapat diambil meliputi pembangunan tanggul pantai, solusi berbasis alam yang mengintegrasikan mangrove dengan infrastruktur, serta pembangunan tanggul lepas pantai.

Dengan adanya berbagai diskusi dan kolaborasi dalam JIF Summit 2026, diharapkan langkah-langkah strategis dalam pengembangan NCICD dapat dilaksanakan secara efektif, sehingga tidak hanya melindungi Jakarta dari ancaman banjir dan perubahan iklim, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar kawasan pesisir.

➡️ Baca Juga: IDAI Tegaskan Pentingnya Ruang Aman bagi Anak dari Bahaya Child Grooming di Dunia Nyata dan Digital

➡️ Baca Juga: Ayam Panggang Pakis Lereng Muria: Kuliner Favorit Selama Lebaran yang Wajib Dicoba

Exit mobile version