Pawai Malam Takbiran Mataram Terbatas Hanya di Tingkat Kecamatan

Hari Raya Idul Fitri merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Namun, perayaan kali ini akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kepala Kepolisian Resor Kota Mataram, Komisaris Besar Polisi Hendro Purwoko, mengumumkan bahwa pawai malam takbiran untuk perayaan ini akan dibatasi hanya di tingkat kecamatan. Keputusan ini diambil untuk menjaga ketertiban dan keamanan selama dua hari besar keagamaan yang bersamaan dengan perayaan Hari Raya Nyepi.
Pembatasan Pawai Malam Takbiran di Mataram
Dalam konferensi pers yang diadakan, Hendro Purwoko menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Mataram telah mengeluarkan pernyataan resmi berkaitan dengan pawai malam takbiran. “Jika kedua hari raya tersebut jatuh pada tanggal yang sama, kami telah sepakat untuk melaksanakan pawai takbiran hanya di tingkat kecamatan,” ujarnya. Keputusan ini bertujuan untuk meminimalisir potensi kerusuhan dan menjaga situasi tetap kondusif selama perayaan berlangsung.
Tujuan Pembatasan
Keputusan ini diambil setelah melalui serangkaian diskusi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Mataram. Beberapa alasan utama di balik pembatasan ini meliputi:
- Menjaga ketertiban umum selama perayaan.
- Meminimalisir potensi konflik antarumat beragama.
- Menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat.
- Memberikan ruang bagi perayaan Hari Raya Nyepi.
- Memfokuskan kegiatan pada tingkat kecamatan untuk lebih mudah dalam pengawalan.
Aturan dan Ketentuan Pawai
Selain pembatasan lokasi, terdapat beberapa aturan tambahan yang perlu diperhatikan oleh peserta pawai malam takbiran. Peserta tidak diperkenankan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda tiga. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kemacetan dan memastikan keamanan selama pelaksanaan pawai. Rute pawai juga akan diarahkan agar tidak melewati kawasan yang menjadi lokasi perayaan Nyepi, sehingga semua kegiatan dapat berlangsung dengan lancar.
Jumlah Peserta yang Diizinkan
Setiap kelurahan di Mataram hanya diperbolehkan mengirimkan dua hingga tiga kelompok peserta untuk mengikuti pawai malam takbiran. Pembatasan ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan dan memastikan bahwa setiap kelompok dapat berpartisipasi dengan baik tanpa mengganggu jalannya acara.
Pengamanan Selama Pawai
Untuk memastikan keamanan selama pawai, akan ada pengawalan ketat dari petugas gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, dan Dinas Perhubungan. Mereka akan ditempatkan di sejumlah titik strategis, terutama di persimpangan jalan yang ramai. “Kami akan bekerja sama dengan pecalang, terutama di lokasi-lokasi perayaan Nyepi, untuk memastikan semuanya berjalan dengan aman,” tambah Hendro.
Waktu Pelaksanaan Pawai
Pawai malam takbiran ini juga dibatasi hingga pukul 22.00 Wita. Pembatasan waktu ini bertujuan agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan tidak terganggu oleh suara bising dari pawai yang berlangsung larut malam.
Situasi Khusus di Kecamatan Cakranegara
Di Kecamatan Cakranegara, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, Kapolres Mataram menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu keputusan dari Pemerintah Kota Mataram terkait lokasi pelaksanaan pawai takbiran. “Tahun lalu, pawai dilepas dari kawasan Cakra Barat, namun untuk tahun ini, lokasi tersebut kemungkinan akan dipindahkan,” jelasnya.
Menunggu Keputusan Pemerintah Kota
Kapolres menambahkan bahwa lokasi yang baru untuk pawai masih dalam proses penentuan oleh pemerintah kota. “Kita sangat mengutamakan keamanan dan kenyamanan semua pihak, jadi kami akan menunggu keputusan resmi dari pemerintah,” katanya.
Pawai Ogoh-Ogoh untuk Perayaan Nyepi
Sementara itu, untuk pawai ogoh-ogoh yang menjadi bagian dari perayaan Nyepi pada tanggal 18 Maret 2026, Kapolres juga telah menyampaikan bahwa parade budaya ini harus selesai paling lambat pukul 18.00 Wita. “Kami telah menginformasikan kepada pemerintah kota dan panitia bahwa pukul enam sore, kegiatan ogoh-ogoh harus sudah berakhir agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan baik,” ujarnya.
Pentingnya Toleransi
Hendro Purwoko juga mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama perayaan dua hari besar ini. Ia menekankan bahwa toleransi antarumat beragama harus tetap diutamakan. “Mari kita saling menghormati dan menjaga kerukunan, agar perayaan ini dapat berlangsung dengan penuh hikmat dan damai,” tutupnya.
➡️ Baca Juga: KAI Wisata Hadirkan Hiburan Budaya dan Takjil untuk Memeriahkan Mudik Lebaran 1447 H
➡️ Baca Juga: PSSI Memperkenalkan Jersey Baru untuk Timnas Indonesia Secara Resmi

