Standard Chartered Indonesia Fokus pada Inovasi Pembayaran dan Transformasi Rantai Pasok Global

Jakarta – Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi dan perubahan kondisi ekonomi global telah memperluas peran treasury dalam dunia bisnis. Transformasi sistem pembayaran yang semakin cepat dan terhubung, diiringi dengan perubahan dalam rantai pasok global, menuntut perusahaan untuk lebih bijak dalam mengelola likuiditas, modal kerja, dan risiko di tengah lingkungan yang semakin kompleks. Dalam konteks ini, Standard Chartered Indonesia menekankan pentingnya inovasi pembayaran sebagai kunci untuk menghadapi tantangan ini.

Perkembangan Pembayaran Digital di Indonesia

Donny Donosepoetro OBE, CEO Standard Chartered Indonesia, mengungkapkan bahwa pertumbuhan pembayaran digital di Indonesia mencerminkan peningkatan tajam dalam kebutuhan transaksi. Menurut data dari Bank Indonesia, pada Agustus 2026, volume transaksi pembayaran digital telah mencapai 6,11 miliar, meningkat lebih dari 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat dan bisnis semakin mengandalkan solusi digital untuk memenuhi kebutuhan transaksi mereka.

Pentingnya Teknologi dalam Transaksi Keuangan

Di masa depan, kecerdasan buatan (AI) serta mata uang digital diprediksi akan mengubah cara perusahaan melakukan transaksi keuangan. Dengan adanya teknologi ini, transaksi tidak hanya akan menjadi lebih cepat, tetapi juga lebih otomatis dan cerdas. Seiring dengan itu, laporan “Future of Trade 2026” dari Standard Chartered memperkirakan bahwa digitalisasi perdagangan dapat meningkatkan nilai perdagangan global sebesar USD2,8 triliun, atau 6,9% lebih tinggi dari proyeksi awal, pada tahun 2031.

Treasury Leadership Forum: Menyikapi Tantangan Global

Standard Chartered menggelar Treasury Leadership Forum (TLF) sebagai platform untuk mendiskusikan bagaimana perusahaan dapat memanfaatkan teknologi dalam menghadapi tantangan yang ada. Forum ini diadakan setiap tahun di berbagai negara, dan kali ini merupakan penyelenggaraan kedua di Indonesia. TLF tahun ini mengangkat dua tema utama yang relevan dengan kondisi terkini.

Transformasi Pembayaran: Cerdas, Instan, dan Tahan Banting

Sesi pertama forum ini berjudul “The Future of Payments: Intelligent. Instant. Resilient.”, yang membahas bagaimana pembayaran real-time, artificial intelligence, dan digital assets dapat mengubah cara perusahaan mengelola pembayaran dan likuiditas. Diskusi ini juga menyoroti isu penting seperti keamanan siber, pencegahan penipuan, dan ketahanan operasional di tengah sistem pembayaran yang semakin terhubung dan cepat.

Beberapa pembicara terkemuka dalam sesi ini antara lain Siva Ramanathan dari Ksher Group, Sean Letz dari Marsh McLennan, dan Jasan Manghnani dari Standard Chartered, yang dimoderatori oleh Jenny Tantono.

Merevolusi Rantai Pasok Global

Sesi kedua berjudul “Rewiring Global Supply Chains: From Uncertainty to Opportunity” mengupas tentang bagaimana ketegangan geopolitik dan perubahan kebijakan perdagangan mendorong perusahaan untuk mengevaluasi kembali rantai pasok mereka. Perubahan ini juga menciptakan peluang besar bagi Indonesia.

Menurut Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, proyeksi investasi Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun, naik 43,3%. Namun, penting untuk diingat bahwa nilai tambah dari investasi tersebut harus tetap ada di Indonesia. Hal ini menuntut penguatan pemasok lokal, peningkatan keterampilan dan teknologi, serta dukungan infrastruktur dan pembiayaan yang memadai.

Inovasi Pembayaran: Payouts-as-a-Service

Merespons perubahan kebutuhan treasury, Standard Chartered Indonesia telah meluncurkan Payouts-as-a-Service. Layanan ini memungkinkan nasabah korporasi untuk mengotomatisasi pembayaran dalam skala besar dan berulang kepada berbagai pihak, berdasarkan parameter bisnis yang telah ditentukan. Inovasi ini diharapkan dapat mempermudah perusahaan dalam mengelola transaksi keuangan mereka.

Pentingnya Peluang, Daya Saing, dan Konektivitas

Dalam pidato kunci di forum tersebut, Shinta Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), menekankan tiga faktor penting untuk menghadapi perubahan ekonomi global: peluang, daya saing, dan konektivitas. Menurutnya, peluang berarti menangkap pasar baru dan beradaptasi dengan perubahan rantai pasok global, sementara daya saing berhubungan dengan peningkatan produktivitas dan pengelolaan biaya.

Membangun Ekonomi yang Tangguh dan Berkelanjutan

Shinta menambahkan bahwa ketiga elemen ini harus berjalan seiring untuk memaksimalkan potensi yang ada. Peluang saja tidak cukup; dunia usaha memerlukan daya saing untuk mengeksploitasi peluang tersebut, serta konektivitas untuk mengubahnya menjadi nilai ekonomi. Dengan strategi yang tepat, perusahaan dapat mengubah disrupsi yang ada saat ini menjadi peluang untuk masa depan, serta membangun ekosistem bisnis yang lebih tangguh dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.

Dengan fokus pada inovasi pembayaran dan transformasi rantai pasok, Standard Chartered Indonesia berkomitmen untuk menjadi mitra strategis bagi perusahaan dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang. Melalui dialog dan kerjasama, diharapkan semua pihak dapat bersinergi untuk menciptakan ekosistem yang lebih baik dan lebih siap menghadapi masa depan.

➡️ Baca Juga: Menhut Raja Antoni Pastikan Karhutla Tidak Ancam Habitat Orangutan di Berau

➡️ Baca Juga: BNPB Maksimalkan Operasi Udara untuk Minimalkan Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan

Exit mobile version