Tradisi ruwatan anak berambut gimbal telah menjadi salah satu sorotan utama dalam Dieng Culture Festival (DCF) 2026, yang berlangsung di kompleks Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Pada hari Sabtu yang cerah, sebanyak 13 anak berambut gimbal mengikuti serangkaian prosesi yang penuh makna ini. Momen ini bukan sekadar ritual, tetapi juga merupakan perwujudan dari kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Rangkaian Prosesi Ruwatan yang Menarik
Prosesi dimulai dengan kirab yang melibatkan ke-13 anak tersebut, yang diarak dari halaman rumah seorang sesepuh adat menuju kompleks Candi Arjuna. Acara ini bukan hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga simbolis, di mana anak-anak ini dibawa menuju tempat yang dianggap sakral. Setibanya di pelataran candi, mereka menjalani ritual jamasan yang dipimpin oleh Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, yang memberikan nuansa khidmat dalam setiap langkah prosesi.
Setelah jamasan, prosesi berlanjut dengan pemotongan rambut gimbal yang dipimpin oleh Mbah Sumanto, seorang sesepuh adat Dieng. Proses pemotongan ini melibatkan tamu undangan yang secara bergantian turut serta dalam ritual, menciptakan suasana penuh keakraban dan rasa syukur.
Makna di Balik Pemotongan Rambut
Sebelum rambut anak-anak tersebut dipotong, mereka diberikan kesempatan untuk menyampaikan permohonan masing-masing. Permohonan ini bervariasi, mulai dari harapan untuk mendapatkan kalkun, kambing, sepeda, hingga laptop. Ini adalah bagian dari tradisi ruwatan, di mana setiap permohonan dianggap memiliki makna khusus dan berhubungan erat dengan kehidupan mereka.
Menurut Chaerudin, salah seorang panitia Ruwatan Anak Berambut Gimbal, tradisi ini telah dipraktikkan oleh masyarakat Dieng selama bertahun-tahun. Hal ini menjadi bagian integral dari Dieng Culture Festival sejak pelaksanaan yang ke-16. Ia menambahkan bahwa tradisi pencukuran rambut gimbal ini berasal dari kepercayaan lokal yang menyatakan bahwa sebelum rambut anak-anak tumbuh menggimbal, mereka biasanya mengalami demam tinggi selama dua hingga tiga hari.
Tradisi dan Kepercayaan Lokal
Chaerudin menjelaskan lebih lanjut bahwa jika permohonan anak sudah dikabulkan, barulah rambut gimbal mereka dapat dipotong. Namun, jika tidak, meskipun rambut tetap bisa dipotong, dipercaya bahwa anak tersebut akan mengalami kesakitan dan rambutnya akan tumbuh gimbal kembali. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya hubungan antara tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat.
Setelah pemotongan, rambut gimbal yang telah dipotong akan dilarung di Telaga Balai Kambang, yang terletak tidak jauh dari kompleks Candi Arjuna. Ritual ini menandai akhir dari prosesi ruwatan, sekaligus memberikan makna spiritual yang kuat bagi semua yang terlibat.
Ungkapan Syukur dalam Tradisi Ngalap Berkah
Rangkaian ruwatan ditutup dengan tradisi Ngalap Berkah, yang merupakan momen bagi masyarakat untuk berkumpul dan berbagi makanan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam momen ini, masyarakat, pejabat, dan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, saling berbaur, menciptakan suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.
Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi
Chaerudin menekankan bahwa ruwatan anak berambut gimbal telah menjadi salah satu daya tarik utama DCF. Hal ini tidak hanya mempertahankan tradisi masyarakat Dieng, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal kepada pengunjung dari berbagai daerah dan negara. Dalam upaya menjaga tradisi ini, penting bagi masyarakat untuk tetap menjadi pemilik utama dari nilai-nilai budaya yang ada.
Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, yang dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan, Agus Widiatmoko, mengingatkan bahwa masyarakat harus tetap menjadi penggerak utama dalam melestarikan tradisi budaya. Ia menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya agar tidak tergantikan oleh kepentingan ekonomi.
Warisan Budaya Takbenda
Fadli Zon menambahkan bahwa ruwatan rambut gimbal bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga merupakan tradisi lintas generasi yang sarat dengan nilai spiritual, penghormatan kepada leluhur, serta gotong royong. Tradisi ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak tahun 2016, menunjukkan betapa pentingnya untuk mempertahankan dan melestarikan warisan budaya ini bagi generasi mendatang.
Ia menekankan bahwa tradisi harus tetap hidup dalam masyarakat, di mana masyarakat tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga pelaku dan pengelola dari tradisi yang ada. Hal ini penting agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap tradisi dapat terus diwariskan dan dinikmati oleh generasi berikutnya.
Menjadi Bagian dari Tradisi yang Hidup
Melalui prosesi ruwatan anak berambut gimbal, masyarakat Dieng menunjukkan komitmen mereka untuk melestarikan tradisi yang telah ada selama berabad-abad. Setiap langkah dalam prosesi ini merupakan gambaran dari identitas budaya yang kaya dan beragam. DCF 2026 menjadi momen penting untuk merayakan keberagaman budaya Indonesia, serta mengajak generasi muda untuk lebih mengenal dan menghargai warisan budaya mereka.
Dengan demikian, tradisi ruwatan anak berambut gimbal bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi juga sebuah pengingat akan pentingnya menjaga dan merawat budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Hal ini menjadi tantangan bagi masyarakat untuk terus berinovasi dalam melestarikan tradisi tanpa kehilangan esensinya.
Ruwatan ini tidak hanya menjadi ajang pamer budaya, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat hubungan antar generasi. Melalui keterlibatan masyarakat dalam setiap tahap prosesi, tradisi ini diharapkan dapat terus hidup dan berkembang, menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Dieng.
Dengan demikian, Dieng Culture Festival dan tradisi ruwatan anak berambut gimbal akan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Indonesia, yang harus dijaga dan dilestarikan demi masa depan yang lebih baik.
➡️ Baca Juga: MilkLife Soccer Challenge Dapat Penghargaan PSSI Awards 2026 dengan 32 Ribu Siswi Terlibat
➡️ Baca Juga: Pohon Tumbang Menimpa Mobil di Harjamukti, Saksikan Videonya di Sini
