Tingkatkan Produktivitas dan Kendalikan Impor untuk Pacu Ekspor yang Berkelanjutan

Jakarta – Defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) Indonesia pada kuartal II tahun 2026 menjadi isu yang memerlukan perhatian serius. Penekanan pada peningkatan ekspor saja tidaklah cukup; penting bagi pemerintah untuk juga mengelola impor dan memperbaiki produktivitas nasional agar dapat mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam neraca perdagangan.

Defisit Transaksi Berjalan: Situasi Terkini

Menurut Aloysius Gunadi Brata, seorang Guru Besar di Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta, defisit CAD pada kuartal II-2026 tercatat mencapai 12,5 miliar dollar AS, yang setara dengan 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya berada di angka 3,6 miliar dollar AS atau 1 persen dari PDB.

“Pelebaran defisit CAD dari 1,1 persen menjadi 3,3 persen dari PDB merupakan perubahan yang substansial,” ungkap Aloysius saat dihubungi baru-baru ini.

Pelebaran Defisit dan Dampaknya

Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama jika bersamaan dengan pelebaran defisit fiskal. Kombinasi antara defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal dapat mengarah pada situasi yang dikenal sebagai “twin deficit” atau defisit kembar, yang berpotensi memperburuk keadaan ekonomi Indonesia.

Untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan, Aloysius menekankan bahwa pemerintah harus mengambil langkah-langkah dari dua sisi secara bersamaan, yaitu mendorong ekspor dan mengendalikan impor. Namun, kedua upaya ini sangat bergantung pada kemampuan Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, baik di sektor industri manufaktur maupun sektor berbasis sumber daya alam.

Pentingnya Meningkatkan Produktivitas

Menurut Aloysius, kebijakan hilirisasi yang diterapkan saat ini belum cukup efektif jika hanya sedikit menggeser posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Beberapa komoditas unggulan yang selama ini menjadi andalan Indonesia mulai menghadapi tantangan dari persaingan yang semakin ketat, serta munculnya komoditas substitusi yang dapat menggantikan produk-produk tersebut.

Pentingnya Tata Kelola dan Kelembagaan

Lebih lanjut, Aloysius menjelaskan bahwa produktivitas tidak hanya sekadar masalah teknis. Rendahnya produktivitas sering kali berkaitan dengan tata kelola ekonomi yang lemah dan kualitas kelembagaan yang tidak menunjukkan banyak perbaikan. Dalam beberapa aspek, kualitas kelembagaan bahkan mengalami penurunan.

“Meskipun neraca transaksi berjalan merupakan indikator penting dari interaksi ekonomi dengan dunia luar, upaya untuk mengurangi defisit juga memerlukan perubahan signifikan di dalam negeri, yang seharusnya lebih teratur dan mudah dikelola,” jelasnya.

Menjawab Tantangan Ekspor

Pada saat yang sama, tantangan dalam meningkatkan ekspor perlu dijadikan perhatian utama. Destry Damayanti, Pejabat Sementara yang juga merupakan kandidat calon Gubernur Bank Indonesia, menyoroti pentingnya memperbaiki kondisi ekspor di tengah melemahnya neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2026.

“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, baik pemerintah, Bank Indonesia, maupun masyarakat umum, untuk mencari cara bagaimana meningkatkan ekspor,” kata Destry dalam sesi uji kelayakan di Komisi XI DPR RI.

Defisit dalam Neraca Pembayaran

Destry menambahkan bahwa transaksi berjalan dalam neraca pembayaran masih mengalami defisit, terutama pada neraca jasa dan pendapatan primer. Hal ini jelas berkontribusi terhadap kembalinya defisit pada transaksi berjalan di triwulan II 2026. Sementara itu, neraca perdagangan juga dihadapkan pada tantangan dalam meningkatkan ekspor barang ke depan.

“Akibatnya, kita kembali mengalami defisit dalam current account karena tantangan yang dihadapi pada trade balance yang perlu kita atasi agar ekspor barang dapat meningkat,” jelas Destry dengan tegas.

Strategi untuk Meningkatkan Produktivitas Ekspor

Dalam menghadapi tantangan ini, ada beberapa langkah strategis yang bisa diambil untuk meningkatkan produktivitas ekspor Indonesia:

Dengan mengimplementasikan langkah-langkah tersebut, diharapkan produktivitas ekspor Indonesia dapat meningkat, sehingga mampu mengatasi masalah defisit yang sedang dihadapi. Dalam jangka panjang, hal ini akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan bagi seluruh masyarakat.

➡️ Baca Juga: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Angkat Bicara Soal Rupiah dan “Serangan” Netizen di TikTok

➡️ Baca Juga: IDAI Tegaskan Pentingnya Ruang Aman bagi Anak dari Bahaya Child Grooming di Dunia Nyata dan Digital

Exit mobile version