BPI dan Eagle Institute Bersinergi Memperkuat Sektor Film Nasional Indonesia

Jakarta – Badan Perfilman Indonesia (BPI) telah resmi menjalin kemitraan strategis dengan Eagle Institute Indonesia, yang dikenal sebagai penyelenggara Eagle Awards Documentary Competition. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan sektor film nasional Indonesia, dengan fokus pada pengembangan bakat sineas dokumenter serta pelestarian warisan film yang ada. Dalam beberapa waktu terakhir, BPI telah menunjukkan komitmen untuk memperkuat industri sinema dari hulu ke hilir, dan kolaborasi ini menjadi langkah konkret dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Pengembangan Talenta Film Dokumenter
Dalam rangka mengatasi tantangan yang ada di sektor film dokumenter, BPI dan Eagle Institute Indonesia berkolaborasi untuk mengatasi berbagai kendala yang sering menghambat proses dari ide hingga tayangnya film kepada publik. Menurut Fauzan Zidni, Ketua Umum BPI, kemitraan ini akan berfokus pada lima pilar penting:
- Peningkatan pengembangan dan produksi film
- Penyelarasan standar kompetensi bagi sineas
- Perluasan jangkauan distribusi film dan festival
- Pemetaan potensi talenta di industri film
- Penguatan advokasi kebijakan yang mendukung
Dengan langkah ini, BPI dan Eagle Institute berkomitmen untuk membuka lebih banyak peluang bagi sineas lokal. Mereka akan memberikan pendampingan serta standarisasi kualitas, sehingga dapat menghubungkan karya-karya mereka ke pasar internasional. Masalah yang sering muncul bagi sineas dokumenter berbakat adalah bukan kurangnya ide, tetapi kurangnya jalur yang jelas dari produksi hingga distribusi.
Ruang Tayangan untuk Karya Dokumenter Lokal
Kemitraan ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas dan kuantitas film dokumenter yang dihasilkan, tetapi juga berupaya menyediakan lebih banyak ruang tayang bagi karya-karya lokal. Baik di tingkat nasional maupun internasional, BPI dan Eagle Institute bertekad untuk memastikan film dokumenter Indonesia dapat dinikmati oleh audiens yang lebih luas.
Penyelamatan Warisan Sinema Nasional
Di samping pengembangan talenta, BPI juga berkomitmen untuk menjaga warisan sinema Indonesia. Dalam rangka ini, mereka telah mengadakan Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) bertajuk “Pengelolaan Koleksi dan Konservasi” pada 3 September 2026 di Gedung E Kemendikbud, Jakarta Pusat. Forum ini berhasil mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk instansi pemerintah, komunitas film, penyelenggara festival, dan rumah produksi.
Diskusi ini menghadirkan beberapa pembicara kunci, di antaranya:
- Achmad Dedi Faozi dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)
- Rizka F. Akbar dari Tim Kerja Pengarsipan Audio Visual/Film Kemendikbud
- Aditya Martodiharjo dari SIKLUS
- Intan Nadya Maulida, Manajer Program JAFF Archive
Partisipasi dari perwakilan Museum Penerangan, TVRI, UICS, PFN, dan para aktivis arsip film juga membuat diskusi ini semakin bermanfaat.
Kendala dalam Pemeliharaan Film
Meskipun berbagai lembaga telah melakukan upaya pemeliharaan film Indonesia secara mandiri, FGD ini menekankan pentingnya koordinasi yang lebih baik antar sektor. Ada beberapa fokus utama yang diangkat dalam diskusi ini, antara lain:
- Konsolidasi jaringan untuk integrasi upaya pelestarian
- Penanganan kendala operasional, termasuk fasilitas dan dana
- Standardisasi kerja dalam pengarsipan
- Pemanfaatan digitalisasi untuk akses publik
- Dampak luas dari preservasi terhadap masyarakat
Salah satu ide penting yang muncul dari diskusi adalah perlunya pembentukan pusat kolaborasi. Pusat ini diharapkan dapat memfasilitasi penggunaan fasilitas, teknologi, dan keahlian secara bersama-sama.
Tindak Lanjut dan Komitmen BPI
Sebagai langkah lanjutan, BPI bersama para pegiat preservasi akan menyusun pemetaan ekosistem pelestarian film nasional secara komprehensif. Rencana ini mencakup evaluasi kebutuhan koordinasi serta penyelarasan peran dan alur kerja antar lembaga. BPI juga merencanakan FGD lanjutan untuk membahas aspek khusus, seperti digitalisasi, restorasi, tata kelola hak cipta, dan perumusan kebijakan pelestarian sesuai dengan mandat UU Perfilman.
BPI memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pemangku kepentingan yang berkontribusi dalam forum ini. Komitmen BPI adalah untuk terus menjadi wadah inklusif yang mendengarkan aspirasi demi merawat ingatan kolektif sinema Indonesia. Dengan langkah-langkah strategis ini, diharapkan sektor film nasional Indonesia dapat tumbuh lebih pesat dan berdaya saing di kancah internasional.
➡️ Baca Juga: Kode Redeem CDID Roblox Terbaru Maret 2026 untuk Dapatkan Hadiah Menarik!
➡️ Baca Juga: Gelar Dikpol di Bandung, Sekjen Demokrat Tingkatkan Kapasitas dan Soliditas Kader secara Efektif




