Ekraf Ajak Pelaku Kreatif Lokal Masuki Kawasan Premium Seperti SCBD Park

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) berkomitmen untuk memperluas akses pasar bagi pelaku ekonomi kreatif lokal. Hal ini bertujuan agar mereka dapat bersaing di kawasan premium seperti SCBD Park, yang dikenal sebagai pusat bisnis dan kreativitas. Melalui inisiatif ini, diharapkan ekosistem ekonomi kreatif dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih baik.
Penghargaan Terhadap Pelaku Kreatif Lokal
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, memberikan apresiasi terhadap acara The Local Market ID: Pasar Wiwitan SCBD yang berlangsung di SCBD Park. Acara ini menunjukkan bahwa produk lokal dan UMKM dapat tampil dan bersaing di tempat yang sering dianggap elit, dengan mengedepankan produk yang kaya akan kearifan lokal.
“SCBD yang selama ini dianggap terlalu premium untuk UMKM, kini menunjukkan kenyataan yang berbeda. Semua pelaku kreatif berkumpul, berjualan, dan menampilkan produk luar biasa yang didasarkan pada bahan serta kearifan lokal. Mari kita bangkitkan rasa bangga untuk membeli dan menggunakan produk dalam negeri demi memperkuat fondasi ekonomi nasional,” ungkap Irene dalam keterangan resmi di Jakarta.
Mandat Presiden untuk Memajukan Ekonomi Kreatif
Di tengah upaya ini, Irene menekankan bahwa Presiden telah memberikan mandat untuk saling berkolaborasi dalam memajukan produk kreatif Indonesia. Ruang kolaborasi yang tercipta antara The Local Market dan SCBD menjadi sarana bagi para kreator lokal untuk memperluas akses pasar secara berkelanjutan.
Pentingnya Data untuk Memperkuat Ekonomi Kreatif
Potensi besar dari produk lokal sangat penting dalam mengukuhkan posisi ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang telah diolah oleh Kementerian Ekraf menunjukkan hal ini dengan jelas.
Untuk subsektor fesyen, kriya, dan kuliner, tercatat nilai ekspor barang ekonomi kreatif yang signifikan dalam periode Januari hingga April 2026. Rincian nilai ekspor ini adalah sebagai berikut:
- Fesyen: 5,85 miliar dolar AS
- Kriya: 3,82 miliar dolar AS
- Kuliner: 0,28 miliar dolar AS
Ketiga subsektor ini juga diprediksi akan menjadi pilar utama ekonomi kreatif pada tahun 2025, dengan kontribusi masing-masing sebesar:
- Kuliner: 41,06 persen
- Fesyen: 14,77 persen
- Kriya: 10,70 persen
Kolaborasi untuk Memperkuat Kearifan Lokal
Menurut Irene, kolaborasi antara Kementerian Ekraf dan para pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam mendukung ekosistem ini. Hal ini penting agar kita tetap terhubung dengan akar budaya dan menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
The Local Market ID: Ruang Kreativitas Bulanan
The Local Market ID diselenggarakan secara rutin setiap akhir pekan pertama di bulan, dimulai dari 1–2 Agustus 2026 hingga edisi 5–6 September 2026. Acara ini merupakan pasar kreatif bulanan yang tidak memungut biaya masuk, dengan mengusung konsep kolaborasi heksaheliks antara pemerintah, kurator, penyedia ruang publik, dan pelaku ekonomi kreatif.
Inisiatif ini digagas oleh PT Ku Ka Aku Suka (The Local Market ID) bersama Kementerian Ekraf dan Creative Event Entertainment (CEE). Acara ini mendapat dukungan dari Artha Graha Group dan menghadirkan lebih dari 200 tenant terkurasi, mencakup berbagai bidang seperti kuliner, kriya, fesyen, barang antik, workshop, hingga pertunjukan musik. Ini menjadi wadah yang ideal untuk mempromosikan kreativitas dan sekaligus melestarikan warisan budaya Indonesia.
Membangun Komunitas Kreatif di SCBD
Direktur CEE, Ananta Pribadi, menjelaskan bahwa kolaborasi antara CEE dan The Local Market ID melalui Pasar Wiwitan SCBD bertujuan untuk menciptakan ruang publik yang mampu menghubungkan komunitas, pelaku kreatif, dan masyarakat. Hal ini sekaligus memperkuat posisi SCBD sebagai destinasi yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat bisnis, tetapi juga sebagai pusat aktivitas kreatif dan budaya.
Keberhasilan Tenant dalam Meningkatkan Penjualan
Beberapa tenant yang berpartisipasi berasal dari berbagai subsektor ekonomi kreatif, seperti Allysia, KASI Living, Saiya, Lyka, Habitat Park, dan Paviliun Artha Graha Peduli. Salah satu peserta yang berhasil melalui kurasi Open Call Kementerian Ekraf, jenama Goodthings, menyampaikan rasa terima kasih kepada The Local Market yang membantu memperluas pasar busana pria dan wanita yang mengusung unsur wastra Nusantara, termasuk cardigan batik dan pakaian etnik modern.
Co-founder Goodthings, Angela, menyatakan bahwa dalam dua hari mengikuti acara pada edisi bulan Agustus, mereka berhasil meraih omzet hingga Rp14 juta. Ini menunjukkan dampak positif yang signifikan bagi pelaku ekonomi kreatif.
Dampak Positif bagi Pelaku Ekraf
Angela juga menambahkan bahwa kegiatan ini memberikan dampak besar bagi pelaku ekonomi kreatif dalam hal peningkatan jumlah pengikut di media sosial, peningkatan angka pembelian ulang, serta memperluas potensi pembeli baru yang datang dari kawasan premium seperti SCBD. Ini menjadi bukti bahwa kolaborasi yang baik antara berbagai pihak dapat memberikan manfaat yang luas bagi semua pelaku ekonomi kreatif lokal.
➡️ Baca Juga: Kenaikan Harga Kemasan Plastik Menjadi Beban bagi Pelaku Usaha dan Konsumen
➡️ Baca Juga: PLN Jamin Keandalan Pasokan Listrik untuk FIFA Series 2026 di Stadion Utama GBK



